
Logics & Philosophy of Science
FILSAFAT SOCRATES
RASIONALISME
Name : Neny Novitriana
NIM : 2006100824
Class : 10-18A
BAB I
PENDAHULUAN
Socrates lahir di Athena pada tahun 470 sebelum Masehi dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya tukang pembuat patung, ibunya bidan. Pada permulaannya Socrates mau menuruti jejak bapaknya, menjadi tukang pembuat patung pula. Tetapi akhirnya ia berganti haluan. Dari membentuk batu jadi patung ia membentuk watak manusia.
Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sufisme di Athena. Pada hari tuanya Socrates melihat
Socrates bergaul dengan semua orang, tua dan muda, kaya dan miskin. Ia seorang filosof dengan coraknya sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Menurut kata teman-temannya: Socrates demikian adilnya, sehingga ia tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya, sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Ia demikian cerdiknya, sehingga ia tak pernah khilaf dalam menimbang buruk baik.
Karena populernya, Socrates yang tak pernah bergambar, tergambar wajahnya dengan sejelas-jelasnya di muka tua dan muda berbagai keturunan. Dari gambarnya yang tergambar dalam jiwa tiap orang itu kemudian orang membuat patungnya yang serupa sekali dengan wajahnya yang sebenarnya.
BAB II
PEMBAHASAN
· Metode Socrates
Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malahan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.
Oleh karena Socrates tidak menuliskan filosofinya, maka sulit sekali mengetahui dengan sahih apa sebenarnya ajarannya. Ajarannya itu hanya dikenal dari catatan-catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Catatan Xenephon kurang kebenarannya, karena ia sendiri bukan seorang filosof. Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Tetapi kesukarannya ialah bahwa Plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya sendiri ke dalam mulut Socrates. Dalam uraian-uraiannya, yang kebanyakan berbentuk dialog, hampir selalu Socrates yang dikemukakannya. Ia memikir, tetapi keluar seolah-olah Socrates yang berkata.
Sungguhpun murid-muridnya memberi isi sendiri-sendiri kepada ajaran gurunya, dalam satu hal sama pendapat mereka, yaitu tentang metode Socrates. Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.
Dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu metodenya disebut maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak.
Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap daripada sesuatunya. Sebab itu ia selalu bertanya: apa itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil? Pertanyaan tentang “apa itu” harus lebih dahulu daripada “apa sebab”. Ini biasa bagi manusia dalam hidup sehari-hari. Anak kecil pun mulai bertanya dengan “apa itu”. Oleh karena jawab tentang “apa itu” harus dicari dengan tanya jawab yang mungkin meningkat dan mendalam, maka Socrates diakui pula—sejak keterangan Aristoteles—sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis. Dalam berjuang mencari kebenaran yang umum lakunya, yaitu mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak seluruh filosofinya.
Oleh karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya jawab
Induksi di sini berlainan artinya ari induksi sekarang. Menurut induksi paham yang sekarang penyelidikan dimulai dengan memperhatikan yang satu-satunya dan dari situ—dengan mengumpulkan—dibentuk pengertian umum lakunya. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut di atas, dari lawannya bersoal jawab, yang masing-masing terkenal sebagai ahli dalam vaknya sendiri-sendiri, dikehendakinya definisi tentang “berani” “indah” dan lain sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian yang nyata. Apabila dalam pasangan itu pengertian tidak mencukupi, maka dari ujian itu pengertian dicari perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara begitu diuji pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikianlah seterusnya. Contoh Socrates bekerja itu dapat diketahui dari dialog-dialog Plato yang mula-mula, di mana caranya berfilosofi masih dekat sekali kepada Socrates.
Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Dengan melalui induksi sampai kepada definisi. Definisi yaitu pembentukan pengertian yang umum lakunya. Pengertian menurut paham Socrates sama dengan apa yang disebut Kant: prinsip regulative, dasar menyusun. Dengan jalan begitu, hasil yang dicapai tidak lagi takluk kepada paham subyektif, seperti yang diajarkan oleh kaum sofis, melainkan umum sifatnya, berlaku untuk selama-lamanya. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.
Dengan caranya itu Socrates membangunkan dalam jiwa lawannya bersoal jawab keyakinan, bahwa kebenaran tidak diperoleh begitu saja sebagai ayam panggang terlompat ke dalam mulut yang ternganga, melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh segala barang yang tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu terlaksana pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Sebab itu tepat sekali Socrates mengatakan: budi ialah tahu. Maksudnya, budi baik timbul dengan pengetahuan. Manusia yang dirusak oleh ajaran sufisme mau dibentuk kembali.
BAB III
PENUTUP
Misi Socrates amat jelas: menghentikan pemikiran sofis yang menganggap bahwa semua kebenaran itu relatif. Pemikiran inilah yang menjadi biang keladi kekacauan itu. Cara yang ditempuh oleh Socrates mudah ditebak, yaitu meyakinkan orang Athena, terutama para filosof dan hakim sofis, bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran yang umum, yaitu kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang. Inilah pengertian umum. Dalam kerangka ini pengertian umum inilah yang merupakan temuan Socrates yang terpenting.
Setelah orang dapat diyakinkan bahwa ada kebenaran yang umum, maka tidaklah terlalu sulit lagi mengajak orang kembali kepada agamanya. Akan tetapi, pengajaran Socrates itu harus dibayarnya dengan harga yang amat mahal: hukuman meminum racun. Ini putusan pengadilan. Hakimnya, ya, orang sofis itu tadi. Akan tetapi, pemikiran Socrates itu bekerja. Plato, murid dan sekaligus teman dan guru Socrates, memperkuat pendapat gurunya itu. Katanya, kebenaran umum memang ada, namanya idea. Idea itu telah ada sebelum manusia ada; ia ada di alam idea. Dengan ini pengertian umum Socrates diperkuat. Murid mereka yang satu lagi, yaitu Aristoteles, memperkuat pendapat guru-gurunya itu. Ia menulis buku yang menelanjangi kepalsuan logika orang-orang sofis itu. Ia pun sependapat bahwa pengertian umum yang kebenarannya berlaku umum memang ada, namanya definisi. Sampai di sini keadaan hegemoni berubah lagi; akal dan hati, rasio dan iman, filsafat dan agama sama-sama menang.
Keadaan itu tidak bertahan lama. Kurang lebih 300 tahun kemudian hegemoni terganggu lagi. Sejak meninggalnya Socrates, filsafat semakin lama semakin merosot dominasinya. Tepat pada ujung zaman helenisme, yaitu pada ujung tarikh sebelum Masehi, menjelang neo-Platonisme, filsafat benar-benar kehabisan bahan bakar; ia kalah. Selanjutnya pemikiran memasuki zaman Abad Pertengahan. Di sini agama dapat dikatakan menang mutlak, akal kalah total. Lalu, apa yang akan terjadi bila hegemoni akal dan iman terganggu.
BIBLIOGRAPHY
http://www.google.com
-001.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar